History

In 1993, construction of Riau Andalan Pulp and Paper was started. Expatriates from Canada, Finland, India, Philippines, South Africa and Sweden were hired to put up the mill hand in hand with their Indonesian counterparts. Ms. Rashanta Devanesan was asked to start a school for expatriate children while Sekolah Global Andalan was set up for the Indonesian employees’ children.

The expatriate school began as an informal home schooling group with Ruha Devanesan, Arjun Devanesan, Kyle Brewis and Jessica Brewis. Many other pupils joined soon after. By 1996, there were 75 students and it was then decided to formalize the school which then became Global Andalan International School.

In 2003, Sekolah Mutiara Harapan (SMH), a semi-international school, opened its doors for Indonesian students upon over-whelming request from parents.

Aiming to provide higher quality of education, GAIS and SMH were merged by administration of both schools in 2006. Sekolah Mutiara Harapan as the name of the school was carried over. Empowered by this commitment, the school embarked its application to the International Baccalaureate Organization (IBO) to offer the Primary Years Programme (PYP) for Kindergarten and Elementary levels.

With the concerted efforts of administration, teachers, staff, parents and students, SMH became the 3rd IB World School in Sumatera in December 2009, and the only IB school in Riau Province, fully authorized to offer the PYP.

The Junior High School section was established in 2008, followed by the Senior High School 5 years later. In 2013 both sections were accredited as Cambridge International School, offering Cambridge Secondary 1, Secondary 2 (IGCSE) and Advanced (A) Level.

In accordance with the regulation of Indonesian Ministry of Education, Sekolah Mutiara Harapan status was changed to Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK)/ Affiliated School in 2014.

Sejara

Pada 1993, konstruksi Riau Andalan Pulp and Paper mulai dibangun. Ekspatriat dari Kanada, Finlandia, India, Filipina, Afrika Selatan, dan Swedia dipekerjakan untuk mendirikan pabrik bersama tim kerja dari Indonesia. Ms. Rashanta Devanesan diminta untuk memulai sekolah untuk anak ekspatriat sementara Sekolah Global Andalan didirikan untuk anak karyawan Indonesia.

Sekolah untuk anak ekspatriat dimulai dalam bentuk home schooling informal dengan Ruha Devanesan, Arjun Devanesan, Kyle Brewis dan Jessica Brewis. Banyak siswa yang kemudian bergabung. Pada tahun 1996, terdapat sekitar 75 murid dan kemudian diputuskan untuk mendirikan sekolah resmi dengan nama Global Andalan International School (GAIS).

Pada tahun 2003, Sekolah Mutiara Harapan (SMH), sebuah sekolah semi-internasional, didirikan untuk peserta didik Indonesia atas permintaan para orangtua murid.

Untuk memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik, GAIS dan SMH digabungkan pada tahun  2006, dengan nama Sekolah Mutiara Harapan. Didukung oleh komitmen di atas, sekolah pun mulai menerapkan Primary Years Programme (PYP) curriculum dari International Baccalaureate Organization (IBO) untuk tingkat TK dan SD.

Dengan dukungan dari manajemen, guru, staf, dan orang tua murid, pada tahun 2009 SMH diotorisasi menjadi IB World School ke-3 di Sumatera, dan satu-satunya di Provinsi Riau untuk menyelenggarakan kurikulum PYP.

Pada tahun 2008, jenjang Sekolah Menengah Pertama didirikan, disusul dengan jenjang Sekolah Menengah Atas 5 tahun kemudian. Pada tahun 2013, jenjang SMP dan SMA terakreditasi sebagai Cambridge International School yang menyelenggarakan program Cambridge Secondary 1, Secondary 2 (IGCSE), dan Advanced (A) Level.

Sesuai dengan peraturan Kementerian Pendidikan Indonesia, status Sekolah Mutiara Harapan berganti menjadi Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) pada tahun 2014.