AKHIR PENJAJAHAN PRAKARSA PADA SEKOLAH KECIL DI PELALAWAN

Wabah virus COVID–19 mungkin telah menimbulkan berbagai dampak buruk yang tak terhitung. Namun apa yang tidak kita sadari adalah kondisi pandemik ini memberi kesempatan kepada kita untuk merekonstruksi ulang prosedur pendidikan di Indonesia. Kita tersadar kembali atas berbagai kesalahan pada cara pengajaran sebelumnya dan timbul pertanyaan-pertanyaan baru. Berbagai aspek pendidikan yang lama lambat laun dikritik dan COVID-19 memberikan kesempatan yang tepat bagi semua sekolah untuk mencoba mengubah cara mengajar ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, menilik kembali konsep ‘merdeka belajar’ yang diusung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, sekolah, guru, dan murid kini punya kebebasan untuk berinovasi serta belajar dengan mandiri dan kreatif. Semangat berinovasi menjadi roh utama untuk menjalankan program ini.

Terletak di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, sebuah kota kecil di Riau yang masih jarang didengar oleh banyak khalayak, SMA Mutiara Harapan yang namanya mulai melejit karena menduduki sekolah terbaik peringkat ke-67 di Indonesia, menjadi salah satu sekolah yang tidak tinggal diam. Dibandingkan dengan sekolah sekitarnya di kabupaten kecil tersebut, mungkin bagi siswa-siswi sekolah ini, tidaklah sulit untuk beradaptasi pada pembelajaran daring, mengingat telah cukup besarnya penggunaan teknologi dalam keseharian siswa sejak dulu. Kelas daring ini telah berlangsung sejak beberapa minggu pertama sekolah resmi diliburkan, dan lambat laun telah menjadi rutinitas masing-masing siswa untuk mengawali hari dengan belajar lewat layar. Kendati perbedaan generasi sekalipun, para siswa bersyukur telah difasilitasi para pengajar yang cukup cepat menguasai dan mengeksplorasi metode-metode pembelajaran jarak jauh.

Sejak diperbolehkannya sekolah-sekolah pada zona kuning dan hijau untuk belajar tatap muka, SMA Mutiara Harapan telah mencoba merancang sistem pembelajaran selain sekadar kelas daring mengingat berbagai kendala yang dijalani selama tiga bulan sebelumnya. Model pembelajaran blended–learning atau pembelajaran campuran menjadi salah satu skenario utama kegiatan belajar-mengajar dan telah dilaksanakan sejak awal tahun pelajaran 2020/2021. Metode ini adalah metode pengayaan yang dilakukan dengan mengombinasikan pelaksanaan pembelajaran secara tatap muka di kelas dengan pembelajaran interaktif dalam jaringan.

Pelaksanaan kelas secara daring tetap menjadi fokus utama dalam kegiatan belajar-mengajar. Pembelajaran jarak jauh dirancang secara matang agar dapat memfasilitasi pembelajaran peserta didik secara optimal. Siswa menggunakan aplikasi Zoom, pada hari Senin hingga Jumat, kelas online berjalan dari pagi hari pada pukul 07.30 hingga 12.15, dengan 3-4 bidang studi per hari. Setiap murid dan guru dipastikan telah mendapatkan pemahaman penuh mengenai penggunaan dan pemanfaatan fitur pada aplikasi, dengan dibagikannya tutorial pemakaian yang dijelaskan secara rinci dan jelas. Sekolah juga menyiapkan berbagai peraturan yang harus dipatuhi murid dan guru selama pembelajaran, seperti dress code, demi meningkatkan kedisiplinan siswa.

Selain melaksanakan konferensi video lewat Zoom sebagai pengganti kelas normal, sekolah menggunakan situs AIMSIS – kependekan dari Academic Information Management System – sebagai sarana manajemen informasi dan pembelajaran sekolah. Pada situs ini, guru, siswa, dan orang tua telah otomatis terhubung, sesuai dengan kelasnya masing-masing. Beragam pengumuman, jadwal, serta link pertemuan Zoom tiap harinya diposting lewat situs ini. Bukan hanya itu, AIMSIS juga menyediakan platform bagi guru untuk memposting tugas serta bahan ajar. Bahkan rapor pun dapat diperiksa secara otomatis setelah guru memposting nilai pada situs ini.

Prinsip yang difokuskan selama pembelajaran jarak jauh ini adalah pengajaran sebagai interaksi, dimana pembelajaran melibatkan proses yang kompleks antar seluruh pihak – yakni siswa, guru, dan orang tua. Komunikasi yang baik menjadi hal penting dalam prinsip ini. Bukan hanya guru, seluruh siswa-siswi SMA Mutiara Harapan diajak untuk menjadi pribadi yang aktif. Siswa diharapkan cepat tanggap dalam menginformasikan kendala dan halangan yang dihadapinya kepada guru. Siswa yang tidak bisa menghadiri kelas karena jaringan diharapkan memberitahu wali kelas masing-masing agar tidak otomatis dicap tidak hadir. Mereka yang membutuhkan pendalaman secara lebih jelas lagi juga diperbolehkan melaksanakan pertemuan daring di luar jadwal yang ditentukan dengan guru yang bersangkutan pada waktu kedua pihak senggang.

            Cara penyampaian informasi masing-masing pengajar dapat berbeda. Guru dibebaskan dalam memilih pengimplementasian materi kepada murid-murid. Di luar penjelasan saat kelas daring, beberapa guru memposting bahan ajar melalui video penjelasan di YouTube atau pada powerpoint yang telah dijelaskan pada kelas daring. Selain agar siswa dapat menelaah ulang hal-hal yang telah dipelajari, hal ini juga menjadi solusi bagi siswa yang kesulitan dengan kondisi jaringan. Sehingga apabila mereka kebetulan terpaksa melewatkan kelas pada hari itu, mereka masih bisa belajar dengan mengunduh bahan-bahan ajar tersebut.

Kendala yang sukar bagi pengajar mungkin adalah ketika mengadakan ulangan atau ujian. Masing-masing guru memiliki cara-cara berbeda untuk tetap mengoptimalkan integrasi siswa pada eksaminasi. Beberapa guru menggunakan platformplatform kuis interaktif seperti Edmodo dan Socrative. Beberapa guru lebih memilih ujian dilakukan seperti biasa pada saat kelas normal, yakni siswa menulis dengan tangan di kertas. Kamera tiap siswa akan diminta untuk tetap hidup serta diarahkan pada tangan siswa agar guru dapat mengawasi apabila siswa berbuat curang dengan melakukan pencarian di Google. Terkadang siswa diperbolehkan membuka buku, namun diciptakan soal-soal yang membutuhkan pemahaman mendalam dan tidak sekadar menyalin dari buku. Terkadang, beberapa guru bahkan mengganti ujian dengan proyek yang membutuhkan pola pikir kritis. Karena pada akhirnya, kemampuan seorang siswa tidak dapat diukur sekadar dari apa yang mampu mereka hafal.

Selama kabupaten Pelalawan berada pada zona hijau dan kuning, sekolah akan kembali dibuka. Siswa-siswi hanya akan datang ke sekolah apabila mendapat izin dari orangtuanya. Kelas normal yang hanya berlangsung sekali seminggu selama dua setengah jam dari pukul setengah dua siang hingga pukul empat sore, ini difokuskan pada pengayaan, yakni guru akan berusaha membahas dan memperdalam kembali materi yang mungkin sulit atau tidak dapat dimengerti selama kelas daring. Jadi dipastikan siswa-siswi yang tidak datang ke sekolah tidak akan tertinggal pelajaran. Kelas normal sekali seminggu ini juga sebagai alternatif bagi siswa yang kesulitan mengikuti pelajaran oleh karena masalah jaringan dan sejenisnya.

Adapun pembelajaran tatap muka ini tetap menjalankan protokol kesehatan secara tegas. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok, dengan jadwal pada hari yang berbeda untuk tiap kelompok. Masing-masing ruangan kelas tidak diisi lebih dari 12 orang, dengan jarak sekitar satu hingga dua meter per meja. Para siswa diwajibkan menggunakan masker dan face-shield selama pembelajaran berlangsung dan dilarang berkerumun. Sebelum memasuki gedung, dilaksanakan pengecekan suhu terlebih dahulu, dimana murid yang suhunya diatas 37.5 derajat akan dipulangkan. Apabila tidak, diwajibkan mencuci tangan terlebih dahulu.. Siswa tidak diperbolehkan menyentuh gagang pintu. Guru akan membukakan pintu bagi siswa yang hendak masuk dan keluar. Jumlah tangga yang boleh digunakan juga dibatasi. Sehingga secara luring pun, pembelajaran ini benar-benar terkontrol dan tetap mengutamakan physical distancing.

Sistem pembelajaran ini murni dilaksanakan demi pemaksimalan edukasi bagi siswa-siswi sekolah Penting diingat bahwa hal ini juga dilaksanakan bukan sekadar karena pandemik saja, namun juga merupakan persiapan mengingat terciptanya zaman baru, yakni Era Revolusi Industri 4.0.